Created on Wednesday, 06 April 2011 19:36 Hits: 1565
Demonstran Gagal Mendapatkan Tanda Tangan Rektor
Perwakilan mahasiswa dari BEM KM dan 17 BEM Fakultas melakukan demo penolakan kartu indentitas kendaraan (KIK), Rabu (30/3). Demontrasi dimulai pukul 09.00 WIB di pelataran Boulevard dengan mengerahkan 50 massa dan bertambah saat menuju Gedung Rektorat.
Aksi ini merupakan sikap terakhir mahasiswa setelah dua bulan draft yang mereka ajukan belum didengar. Forum yang ada selama ini belum menemukan titik temu antara kedua belah pihak. Draft tersebut berisi penolakan KIK yang dinilai bertentangan dengan nilai kerakyatan UGM dan isu komersialisasi.
Demonstran menawarkan solusi dengan memaksimalkan peran SKKK, pengadaan transportasi publik yang ramah lingkungan dan terjangkau, serta penggunaan KTM dan STNK untuk kontrol keluar masuk UGM.
Aksi berlanjut di sepanjang pinggiran jalan rektorat dengan tujuan menemui Rektor UGM, Prof Ir Sudjawardi M.Eng Ph.D. Demonstran mulai memasuki Gedung Rektorat sekitar pukul 11.00 WIB. Mereka terpecah menjadi dua massa. Sebagian di lantai I dan sebagian ke lantai II menuju kantor rektor.
Aksi yang awalnya terkontrol itu pun mulai ricuh saat beberapa demonstran mencoba untuk menerobos salah satu pintu yang tertutup. Aksi dorong tak terhindarkan saat SKKK berusaha menahan arus massa. Ketegangan mulai mereda saat Sudjawardi didampingi sejumlah petinggi UGM menemui mahasiswa. Antara lain Direktur Kemahasiswaan dan Direktur PPA.
Demonstran yang masih bertahan di lantai II pun diminta turun. Rektor meminta data tertulis siapa saja yang ikut dalam aksi tersebut untuk menghindari adanya provokasi pihak luar. Perwakilan demonstran menyatakan 110 orang yang berpartisipasi.
Meski rektor mendatangi para demosntran dan berdialog, hal tersebut belum membuat puas Lutfhi, Presiden Bem KM dan kawan-kawan. “Apakah pantas seorang Bapak meminta uang kepada anaknya demi jaminan keamanan?” seruan salah satu demonstran. Dialog pun dihentikan saat adzan Dhuhur berkumandang sekitar pukul 12.35 WIB.
Demonstran bersikap kooperatif dengan adanya 10 wakil demonstran yang menemui Direktur PPA dan Direktur Kemahasiswaan. Forum terbuka ini lagi-lagi belum memuaskan demostran. Mereka bersikukuh meminta rektor menandatangani nota perjanjian sebagai bukti legalitas bahwa rektor akan melakukan “perubahan kebijakan”.
Tak lama berselang, rektor pun menemui perwakilan demonstran. Tuntutan demostran masih sama yaitu adanya hitam diatas putih, “Bagaimana meninjau ulang. Saya menawarkan ke depan kita bersama-sama meninjau ulang kebijakan KIK ini”, usul Lutfhi.
Namun Sudjawardi memiliki pandangan yang berbeda. ”Istilah yang positif itu bukan meninjau ulang, itu juga racun, itu daripada istilahnya retorika. Kita menganut namanya continue improvement (perbaikan berkelanjutan, -red) jadi diperbaiki dari waktu ke waktu secara kontinyu,” ucapnya.
Sudjarwadi meminta agar para mahasiswa mengajukan 3 orang untuk mewakili suara mahasiswa dalam feedback perbaikan, sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi, internalisasi (SEKI). Hal ini akan segera ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya surat keputusan (SK) oleh Direktur PPA. Forum berakhir dan para demonstran pun menyanyayikan lagu Indonesia Raya sebelum membubarkan diri.
Dewi